Menemukan Batas Diri di Balik Sikap Selalu Tidak Enakan

    Haii, perkenalkan nama saya Dea Windy Setiawan dari kelompok 01 Neuron. Saya ingin membagikan sedikit cerita mengenai permasalahan yang pernah saya hadapi. Ada satu masalah pribadi yang cukup sering saya alami, yaitu kecenderungan untuk selalu merasa tidak enakan terhadap orang lain. Sikap ini sering disebut sebagai people pleaser, di mana seseorang terlalu fokus membuat orang lain nyaman hingga mengorbankan dirinya sendiri. Sekilas terlihat sebagai sikap baik, namun jika dilakukan berlebihan hal ini bisa menjadi sumber tekanan yang diam-diam menguras energi. Saya termasuk tipe orang yang kesulitan menolak permintaan orang lain, bahkan saat kondisi saya sedang tidak memungkinkan. Setiap kali ingin berkata "tidak", muncul rasa bersalah yang cukup besar. Saya khawatir orang akan kecewa, menjauh, atau menganggap saya tidak peduli. Karena itu, saya sering memaksakan diri menyanggupi hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan.

       Situasi seperti ini membuat saya sering kewalahan sendiri. Ada banyak waktu yang seharusnya saya gunakan untuk diri sendiri tetapi akhirnya habis untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Saya merasa lelah, tertekan, dan kadang kesal, namun tetap saja sulit berhenti mengatakan "iya". Pada titik tertentu, saya mulai kehilangan kendali atas kehidupan saya sendiri. Saya terlalu sering mengikuti keinginan orang lain sampai lupa memikirkan apa yang saya butuhkan. Seiring waktu, saya mulai sadar bahwa menjadi orang baik tidak harus berarti selalu setuju dengan semua permintaan. Ada batas yang harus saya kenali agar saya bisa menjalani hidup dengan lebih sehat. Dari pengalaman itu, ada tiga langkah yang menurut saya paling membantu untuk mengurangi kebiasaan people pleasing dan mulai belajar untuk menghargai diri sendiri.

1. Menyadari dan Memahami Batas Diri

    Sebelum saya belajar menolak, saya perlu memahami sejah mana kemmapuan dan kapasitas diri saya. Selama ini saya jarang bertanya kepada diri sendiri apakah saya benar-benar mampu mengerjakan sesuatu, atau apakah saya melakukannya hanya karena tidak enak menolak. Saya terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain sampai sering mengabaikan kondisi pribadi. Sekarang saya mulai membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum merespons permintaan orang. Saya bertanya pada diri sendiri "Apakah aku sanggup? Apakah aku punya waktu? Apakah ini penting bagiku?". Jika hati saya terasa berat atau tidak nyaman, itu biasanya tanda bahwa saya perlu mempertimbangkannya kembali. Dengan memahami batas ini, saya belajar bahwa tidak harus selalu ada untuk semua orang. Bukan berarti saya berhenti membantu, tetapi saya mulai menempatkan diri pada posisi yang lebih seimbang antara peduli pada orang lain dan peduli pada diri sendiri.

2. Belajar Mengatakan "Tidak" dengan Lembut

    Bagian paling sulit bagi saya dalah mengatakan "tidak". Rasanya seperti menolak seseorang yang membutuhkan. Namun lama-kelamaan saya sadar bahwa menolak bukan berarti saya jahat, itu hanya cara menjaga diri agar tidak kelelahan. Saya mulai berlatih menolak dengan kalimat yang sopan dan tetap bersahabat, mislanya :

  • "Maaf, aku belum bisa bantu lagi banyak urusan."
  • "Aku pingin bantu, tapi kondisiku lagi nggak memungkinkan."
  • "Kayaknya aku gak bisa ikut dulu, aku perlu waktu buat diriku."
    Yang membuat saya kaget, sebagian besar orang justru memahami dan tidak marah. Selama ini saya hanya membayangkan hal-hal buruk yang sebenarnya tidak terjadi. Menolak dengan sopan ternyata jauh lebih baik daripada memaksakan diri dan akhirnya merasa tertekan. Dari situ saya belajar bahwa mengatakan "tidak" bukan berarti menolak hubungan dengan orang lain tetapi menolak tuntutan yang melewati batas kemampuan saya.

3. Memberikan Ruang untuk Diri Sendiri

    Sebagai seseorang yang sering mengutamakan orang lain, saya jarang memberikan waktu untuk diri sendiri. Jadwal saya penuh dengan aktivitas yang sebenarnya bukan kebutuhan saya. Karena itu, saya mulai mencoba memberi ruang khusus untuk diri sendiri, walaupun hanya beberapa saat. Saya melakukan hal-hal sederhana yang membuat saya merasa tenang, seperti istirahat tanpa merasa bersalah, menonton sesuatu yang saya suka, atau sekedar duduk santai tanpa memikirkan apapun. Aktivitas kecil seperti ini membantu saya merasa lebih stabil secara emosional. Saat saya mulai merawat diri sendiri, saya merasa lebih kuat dan lebih mudah membuat keputusan. Saya tidak lagi otomatis berkata "iya," karena saya sudah belajar menghargai batas kemampuan saya.


    Kebiasaan selalu merasa tidak enakan memang tampak sepele, tetapi dampaknya bisa besar. Masalah ini mengajarkan saya bahwa bersikap baik bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri. Dengan memahami batas pribadi, belajar menolak dengan sopan, dan memberi waktu untuk diri sendiri, saya perlahan mulai keluar dari pola people pleaser yang selama ini membebani. Saya mungkin belum sepenuhnya berubah, tetapi saya bangga karena sudah mulai melangkah. Setiap langkah kecil membawa saya menuju versi diri yang lebih jujur, lebih kuat, dan lebih mencintai diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume D4 Ankes Unusa Lakukan Deteksi Dini ISK dan Bacterial Vaginosis

Resume Materi Hari Kedua PKKMB UNUSA

Resume Materi Hari Pertama PKKMB UNUSA